Artikel analisis bahasa anak

Nama: Embarianianiyati Putri
Nim: A1D117012
Ruang: R001/5
email: embarianiyatiputri@gmail.com
Pendahuluan
Komunikasi yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari salah satunya adalah percakapan. Percakapan merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam interaksi sosial. Percakapan dilakukan oleh siapa saja dan kalangan mana saja, mulai dari orang tua, remaja sampai kalangan anak-anak. Sejak kecil seorang anak mulai menunjukkan kemampuan khusus berbahasa, seperti menirukan pembicaraan yang dilakukan oleh orang tuanya, kemudian anak akan merekamnya dalam ingatan, dan selanjutnya melalui proses yang bertahap dan terus menerus seorang anak akan menggunakan bahasa-bahasa tersebut dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuan anak-anak yang berbeda-beda akan mengakibatkan perbedaan kemampuan dalam penguasaan bahasa yang mereka pelajari.
Ketika anak-anak masuk ke sekolah dasar, mereka berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang baru. Sekolah memberi mereka sumber ide baru yang kaya untuk menambah perasaan diri mereka (Santrock, 2007:247). Hal ini menunjukkan bahwa pada usia sekolah dasar, perkembangan bahasa anak mulai mengalami peningkatan dari bahasa lisan ke bahasa tulis. Anak-anak juga mengalami peningkatan dalam penggunaan bahasa. Pemerolehan bahasa pada anak-anak tidak serta-merta dapat langsung sempurna, namun melalui proses perkembangan yang panjang dan secara terus menerus bersegmentasi dari tahap perkembangannya. Perkembangan pemakaian bahasa anak dipengaruhi oleh meningkatnya usia anak, semakin anak bertambah umur, maka akan semakin banyak kosa kata yang dikuasainya.  Alasan penelitian ini menarik untuk diteliti karena banyak ditemukan konjungsi penambahan, pengurutan, pertentangan, persyaratan, dan konjungsi kesewaktuan yang dominan dalam percakapan sehari-hari anak usia 7-9 tahun.
Pembahasan
Nama : Wisnu Yaslila Sanjaya
TTL : Muara Bulian, 3 oktober 2010
Umur : 9 tahun
Kelas : IV (SDN 34 Teratai)
Wisnu merupakan seorang anak yang menjado objek pengamatan. Pada saat saya melakukan pengamatan wisnu sedang makan jajan dengan adiknya bernama sinta. Bahasa yang digunakan kakak beradik tersebut bahasa daerah. Seketika adiknya kehabisan jajan lalu menyuruh kakaknya si wisnu membukanya.
Sinta : Abang, tolong buka kan jajan jaipong ini
Wisnu : Sini abang yang bukain jajannya.
Sinta : Adikya dengan senang kemudian lanjut bermain
Wisnu : hati-hati bermainnva adek
Bentuk-bentuk Konjungsi yang dikuasai anak usia 7-9 Tahun. Sebagai berikut:
A. Konjungsi Koordinatif
Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua buah konstituen yang kedudukannya sederajat (Chaer, 2009:83). Bentuk-bentuk konjungsi koordinatif yang ditemukan dalam tuturan percakapan anak usia 7–9 tahun, yaitu konjungsi koordinatif tunggal dan konjungsi koordinatif ganda. Konjungsi koordinatif tunggal yang terdiri atas satu kata dalam satu kalimat, antara lain konjungsi penjumlahan berupa kata dan, konjungsi pertentangan berupa kata sedangkan dan tapi, konjungsi pemilihan berupa kata atau, konjungsi pengurutan berupa kata terus dan habis itu, konjungsi simpulan berupa kata jadi, dan konjungsi penegasan berupa kata lagipula. Konjungsi koordinatif ganda yang terdiri atas dua kata dalam satu kalimat, antara lain konjungsi pertentangan-penjumlahan berupa kata tapi-dan, konjungsi penjumlahan-pertentangan berupa kata dan-tapi, konjungsi pengurutan-simpulan berupa kata terus-jadinya. 
Masing-masing konjungsi berdasarkan bentuknya dapat dilihat pada pemakaian konjungsi berikut ini:
Konjungsi Koordinatif Tunggal 
Berdasarkan klasifikasi dan analisis data ditemukan pemakaian konjungsi koordinatif tunggal. Maksudnya adalah dalam kalimat tersebut hanya digunakan sebuah konjungsi untuk menggabungkan konstituen yang dihubungkan, baik antara kata dengan kata, frasa dengan frasa, maupun klausa dengan klausa dalam satu kalimat. 
a) Konjungsi penjumlahan/penambahan berupa kata dan. 
b) Konjungsi pertentangan berupa kata sedangkan dan tapi. 
c) Konjungsi pemilihan berupa kata atau. 
d) Konjungsi pengurutan berupa kata terus dan habis itu. 
e) Konjungsi simpulan berupa kata jadi. 
f) Konjungsi penegasan berupa kata lagipula
2) Konjungsi Koordinatif Ganda 
Berdasarkan klasifikasi dan analisis data ditemukan pemakaian konjungsi koordinatif ganda. yang terdiri atas dua kata dalam  satu kalimat. Maksudnya adalah dalam kalimat tersebut menggunakan dua buah konjungsi yang digunakan untuk menggabungkan katadengan kata berkategori sama dan klausa dengan klausa dalam satu kalimat. Penggunaan konjungsi koordinatif yang terdiri atas dua kata atau lebih dalam tuturan percakapan anak usia 7–9 tahun, di antaranya adalah sebagai berikut. 
Konjungsi koordinatif pertentangan dan penjumlahan berupa tapi-dan. 
Konjungsi Koordinatif Pengurutan dan Simpulan berupa kataterus-jadinya. 
Konjungsi koordinatif pengurutan dan pertentangan berupa kata terus-tapi
B. Konjungsi Subordinatif 
Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih dan klausa itu tidak memiliki kedudukan yang sama atau konjungsi yang menghubungkan induk kalimat dengan anak kalimat (Alwi, 2003:299). Berikut ini ditemukan beberapa jenis konjungsi subordinatif yang terdapat dalam tuturan percakapan anak usia 7–9  tahun, di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Konjungsi subordinatif waktu antara lain berupa kata ketika, setelah,   sambil, dan waktu. 
2) Konjungsi subordinatif syarat antara lain berupa kata kalau dan asal. 
3) Konjungsi subordinatif penyebaban antara lain berupa kata sebab dan karena. 
Daftar Pustaka
Rahayu, O. K. K. (2012). Pemakaian Konjungsi Pada Bahasa Percakapan Anak Usia 7-9 Tahun Di Desa Pabelan Kecamatan Kartasura Kabupaten  Sukoharjo (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Latifa, U. (2017). Aspek perkembangan pada anak usia dasar: masalah dan perkembanagannya. Academia: Jurnal Of Multidisiplinary Studies, 1(2), 185-196.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 12 " Pembelajaran menulis "

Materi 5 (Hakikat Berbicara)

Artikel cadel