Artikel cadel
Nama: Embarianianiyati Putri
Nim: A1D117012
Ruang: R001/5
email: embarianiyatiputri@gmail.com
CADEL
A. Pengantar
Pada dasarnya manusia memperoleh kemampuan berbahasa sejak lahir yang kemudian mewarisi kemampuan bahasa pertama dari ibunya. Pemerolehan bahasa terjadi secara alami pada saat belajar bahasa pertama (bahasa ibu). Pemerolehan bahasa biasanya didapatkan dari hasil kontak verbal dengan penutur asli lingkungan bahasa yang mengacu pada penguasaan bahasa yang tidak disadari dan tidak terpegaruh oleh pengajaran bahasa.
Manusia memiliki kemampuan berbahasa lisan dan tulisan. Bahasa lisan dan tulisan merupakan suatu bentuk komunikasi yang dilakukan oleh seseorang dalam menyampaikan maksud tertentu. Berbicara adalah suatu ujaran yaitu sebagai suatu cara berkomunikasi mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, perasaan dan keinginan dengan bantuan lambing-lambang yang disebut kata-kata (Tariga, 1981). Bahasa dijadikan sebagai landasan seseorang untuk dapat mempelajari sesuatu yang ada di lingkungannya.
Dalam hidup seseorang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Dimana kekurangan bukanlah hal yang dapat mematahkan semangat kita untuk sukses. Disini kita akan membahas tentang kelainan pada seseorang yaitu cadel. Cadel merupakan ketidakmampuan melafadskan huruf ”r”. Umum dijumpai pada anak usia BALITA (bawah lima tahun), tapi sering pula terdapat pada orang dewasa. Cadel yang dialami oleh orang dewasa umumnya disebabkan oleh pengaruh lingkungan seperti psikoedukatif dan psikokultural, dapat pula disebabkan oleh faktor penyakit seperti menderita down syndrom, stroke, atau pada penderita penyakit yang berhubungan dengan syaraf.
Selain karena pengaruh lingkungan tadi (sosiokultural) cadel juga dapat dijumpai pada penderita down syndrome, akibat stroke atau pada penderita penyakit yang berhubungan dengan syaraf (Sidabutar, 1994; Sidarta, 1986).
Pada umumnya cadel ini tidaklah dianggap suatu masalah serius karena tidak tergolong jenis penyakit atau gejala penyakit dan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakit (Sidabutar, 1986).
B. Pembahasan
1. Pengertian Cadel
Menurut dr. Lily Sidiarto dari bagian Neurologi FKUI-RSCM, Jakarta, cadel adalah salah satu bentuk disartri yaitu sebutan untuk gangguan artikulasi (pengucapan kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur atau gangguan fungsi dari organ artikulasi. Cadel dapat disebabkan oleh gangguan struktur antara lain karena ukuran lidahnya relatif pendek atau kelainan pada otot yang terdapat di bawah lidah. Adanya kelainan kedua otot tadi bisa menyebabkan gerakan lidah menjadi kurang baik.
Cadel adalah ketidak mampuan mengucapkan satu huruf unik, umumnya huruf R, meski ada juga sebagian orang yang justru bisa menyebut huruf R, namun cadel untuk huruf lainnya. Orang Jepang misalnya, kebanyakan cadel pada huruf L. Ada beragam variasi cadel pada anak. Ada yang menyebut “R” jadi “L”, “K” jadi “T”, “K” jadi “D”, atau “S” dengan “T”, sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda. Jadi yang dimaksud dengan cadel adalah kesalahan dalam pengucapan.
2. Penyebab Cadel dan Cara Mengatasinya
Penyebab lain anak menjadi cadel dapat dilihat dari beberapa hal yaitu sebagai berikut: (1) Kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah. Kemampuan mengucapkan kata-kata vokal, konsonan secara sempurna sangat bergantung pada kematangan sistem saraf otak, terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otototot lidah. (2) Kelainan fisiologis berupa gangguan pada bagian pendengaran, gangguan pada otak, dan gangguan di wilayah mulut. (3) Faktor lingkungan. Biasanya orang tua yang membiarkan anaknya cadel, bahkan ikut mengikuti ucapan si anak. (4) Faktor psikologis bisa menjadi penyebabnya. Mungkin anak yang kurang perhatian orang tua karena kehadiran sang adik, menjadi ikuti kutan gaya bicara adik yang cadel.
Dari keempat penyebab cadel tersebut, dapat diatasi dengan cara orang tua harus menuntun anak melafalkan ucapan yang benar, orang tua harus menghentikan kebiasaan berkata cadel, dan orang tua harus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar. Namun jika penyebab cadel karena faktor fisiologis tentu relatif dapat diatasi, tergantung kategori ringan atau berat. Umumnya bila penyebab masuk dalam kategori berat penyakitnya maka bisa jadi cadel yang menetap dan jika tergolong ringan, maka cadelnya tidak menetap.
Masalah cadel pada anak cukup sulit untuk dideteksi apakah akan berlanjut setelah mencapai usia lima tahun atau lebih, karena menyangkut sistem otak yang mengatur fungsi bahasa, yaitu Area Broca. Area ini mengatur koordinasi pada area vokal dan area wernicke untuk bagian pemahaman terhadap kata-kata.
C. Sumber
Arsal, A. F.(2012). Analisis Pedigree Cadel (Studi Kasus Beberapa Kabupaten di Sulawesi Selatan). Sainsmat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Alam, 1(2) 156-166.
Indah, R. N. (2017). Gangguan berbahasa: Kajian pengantar
Matondang, C. E. H. (2019). Analisis Gangguan Berbicara Anak Cadel (Kajian pada Persfektif Psikologi dan Neurologi). Bahastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3 (2), 49-59.
Komentar
Posting Komentar